Garut,Sinarpriangan News
Terlihat jelas masih berdirinya rumah tidak layak huni di Kelurahan Sukanegla Kecamatan Garut Kota, itu bukti Potret Kemiskinan yang belum terselesaikan dan kurangnya perhatian daripada pemerintah itu sendiri. Minggu 25 Agustus 2024.

Bapak risman bersama keluarganya yang menempati rumah tidak layak huni itu sudah hampir tiga tahun tinggal di kediaman mertuanya pasalnya rumah yang tidak layak huni itu yang berada di Kp. Lembur limus/Legok limus RT 03 RW 05 Kelurahan Sukanegla kecamatan Garut Kota, sudah tidak ditempati lagi karena pada tahun 2021 sempat ada longsoran ketika hujan deras menimpa rumahnya.
Hal itu membuat rasa takut Bapak Risman beserta istri dan anak anaknya untuk menempati rumah tidak layak huni itu, karena rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu dan bambu itu tidak akan kuat lama apabila di tempati olehnya, pasalnya kayu dan bambu yang sudah pada rapuh dan harus di ganti atau di rehab, tidak memungkin bisa di tempati, apabila kondisi masih seperti itu.
Saat kami mewawancarai dirinya, Bapak rizman yang didampingi oleh istrinya sebari keadaan yang sangat memprihatinkan, dirinya memaparkan.
“Usaha kami serabutan apa saja kami kerjakan yang penting pekerjaan atau usaha
itu Halal, Namun beberapa minghu ini, kami sedang nganggur tidak ada kerjaan.” Tuturnya
Risman juga bukannya tidak ingin memperbaiki rumah tersebut, Namun apadaya tangan tak sampai disaat ekonomi yang sulit ini , jangankan untuk membangun rumah atau merehabnya, buat makan saja sangat susah.
Maka dari itu harapan dari dirinya uluran tangan orang orang baik dan para dewan atau pemerintahan
” Kami berharap kepada para wakil rakyat yang bisa merespon kami untuk memfasilitasi menjembatani untuk bantuan daripada pemerintah biar pembangunan rumah tidak layak huni terealisasikan.” Tandasnya
Menyikapi hal tersebut salahsatu Aktivis dari penggerak sosial angkat bicara.
“Kepada seluruh intansi pemerintahan yang terkait tolonglah perhatikan masyarakat yang tidak mampu/masyarakat miskin. Kemerdekaan ini jangan hanya di jadikan simbol seremonial saja. Apalah arti merdeka kalau pemerintahan ini tidak bisa memerdekakan masyarakatnya dari kemiskinan.” Pungkasnya
Pewarta:
Ujang Bahar





