Milad Ke-4 Wahegar Angkat Tema Wanita Berkebaya Raden Ayu Lasminingrat, Yudha Puja Turnawan: Kebaya Warisan Budaya Bangsa

Berita33 Dilihat

Sinar Priangan – Komunitas Wanita Hebat Garut (Wahegar) merayakan milad ke-4 di Pendopo Garut, Kamis (4/6/2026). Pada perayaan tahun ini, Wahegar mengusung tema “Wanita Berkebaya Raden Ayu Lasminingrat” sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh perempuan Sunda yang dikenal memperjuangkan emansipasi wanita.

Perayaan milad berlangsung meriah dengan dua agenda utama, yakni talk show mengenai kebaya dan fashion show kebaya yang diikuti peserta dari berbagai kalangan usia. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Wahegar dalam melestarikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa sekaligus memperkuat peran perempuan dalam kehidupan sosial dan budaya.

Ketua Umum Wahegar, Susi Susilawati, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi keinginan untuk mengenang dan melanjutkan perjuangan Raden Ayu Lasminingrat.

“Alhamdulillah hari ini 4 Juni 2026 kami mengadakan milad Wahegar, di sini mengambil tema wanita berkebaya Raden Ayu Lasminingrat seorang tokoh wanita Sunda yang memperjuangkan emansipasi wanita, dan kita sebagai wanita harus bisa melanjutkan perjuangan beliau ,” ujarnya.

Menurut Susi, sosok Raden Ayu Lasminingrat memiliki jasa besar dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sehingga patut dikenang oleh generasi saat ini.

“Di sini Wahegar ingin mengingat kembali dan memberikan apresiasi yang paling dalam meskipun sudah meninggal dunia tapi masih terkenang namanya dan memberikan penghargaan,” ujarnya.

Ia berharap kebaya khas Garut semakin dikenal luas, tidak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional hingga internasional.

“Agar bisa berkelanjutan kebaya Garut supaya bisa dikenal di Garut provinsi dan internasional.”

“Warga Indonesia harus bangga dalam bentuk melestarikan budaya leluhur kita,” ujarnya.

“Kalau tidak kita lestarikan bagaimana generasi yang akan datang bisa mencintai kebaya,” ujarnya.

Susi menegaskan bahwa pelestarian kebaya perlu dimulai dari lingkungan keluarga, khususnya para ibu yang dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya.

“Dan ini harus dimulai dari emak-emaknya agar bisa mencontohkan kepada anak-anaknya,” ujarnya.

Dalam rangkaian milad tersebut, Wahegar menggelar talk show yang membahas sejarah dan makna kebaya serta fashion show kebaya yang memperebutkan Piala Bergilir Raden Ayu Lasminingrat.

“Acara ini ada talk show apa itu kebaya dan juga fashion show kebaya memperebutkan piala bergilir Raden ayu lasminingrat,” ujarnya.

“Dan Saya mengucapkan terima kasih juga apresiasi kepada keluarga Raden ayu lasminingrat karena memberikan tropi ini kepada wahegar untuk dijadikan piala bergilir tiap tahun,” ujarnya.

Selain piala bergilir, panitia juga menyediakan piala tetap bagi para pemenang. Kegiatan ini dibuka untuk umum tanpa batasan usia, sebagai bentuk ajakan kepada seluruh masyarakat untuk tetap bangga mengenakan kebaya.

Susi menjelaskan bahwa kebaya tidak hanya mencerminkan keanggunan perempuan Indonesia, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam fashion show tersebut, ditampilkan beragam kebaya yang mengangkat kekhasan Garut, termasuk kebaya dengan motif batik Garutan dan motif yang terinspirasi dari Raden Ayu Lasminingrat.

“Dan generasi muda sekarang jangan malu memakai kebaya dan ternyata memakai kebaya itu mempesona dan indah dilihatnya,” ujarnya.

“Selain itu Susi juga mengatakan bahwa memakai kebaya itu sebetulnya tidak membuat kita ketinggalan zaman karena model dari kebaya sekarang bisa dimodifikasi,” ujarnya.

Ia juga menilai kebaya memiliki potensi untuk mendukung sektor pariwisata daerah. Pengalaman saat melakukan studi banding ke Bali menunjukkan bahwa kebaya dapat dikembangkan sebagai bagian dari industri kreatif dan wisata budaya, termasuk melalui penyewaan busana tradisional kepada wisatawan.

Menurut Susi, sekitar 200 peserta dari berbagai organisasi dan komunitas mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran peserta dari luar Kabupaten Garut juga dinilai dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan aktivitas ekonomi dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Susi turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Garut, khususnya Bupati dan Wakil Bupati Garut, atas dukungan yang diberikan terhadap penyelenggaraan Milad Wahegar ke-4. Ia berharap ke depan dukungan pemerintah, baik secara moril maupun materiil, dapat semakin ditingkatkan mengingat selama ini organisasi tersebut banyak bergerak secara mandiri.

“Ke depannya semoga pemerintah mensupport keberadaan organisasi-organisasi yang bisa memberikan kontribusi terhadap Kabupaten Garut,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Wahegar juga mendapatkan dukungan dari Anggota DPRD Kabupaten Garut Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Dukungan tersebut berupa hadiah untuk para pemenang fashion show, yakni mesin cuci untuk juara pertama, kompor gas untuk juara kedua, dan rice cooker untuk juara ketiga, serta sejumlah hadiah hiburan dari sponsor lainnya.

Sementara itu, Yudha Puja Turnawan menyampaikan apresiasi atas perjalanan empat tahun Wahegar yang dinilainya konsisten menjadi wadah pemberdayaan perempuan di Kabupaten Garut.

“Saya selaku Anggota DPRD Kabupaten Garut mengucapkan selamat Milad ke-4 untuk Wanita Hebat Garut. Semoga Wahegar semakin maju dan berkembang dalam mewadahi kiprah perempuan Garut agar semakin berdaya dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” ujar Yudha.

Menurutnya, Wahegar telah menunjukkan peran penting dalam menghimpun berbagai komunitas perempuan yang aktif bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Berbagai program yang dijalankan mencakup pengembangan UMKM, peningkatan kesehatan masyarakat, kegiatan sosial kemanusiaan, hingga edukasi dan penyuluhan bagi warga.

Perayaan Milad ke-4 Wahegar juga diramaikan dengan pameran produk UMKM binaan serta penampilan para perempuan inspiratif Garut dalam fashion show kebaya. Yudha menilai kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena secara konsisten ikut melestarikan busana kebaya sebagai warisan budaya bangsa. Kebaya bukan sekadar pakaian, tetapi juga mencerminkan karakter, keanggunan, dan jati diri perempuan Indonesia,” katanya.

Sebagai bentuk penghargaan kepada para peserta, Yudha memberikan hadiah tambahan berupa perlengkapan rumah tangga.

“Semoga hadiah yang diberikan dapat bermanfaat dan menjadi penyemangat bagi para perempuan hebat yang terus berkarya dan menginspirasi lingkungan sekitarnya,” tambahnya.

Yudha menjelaskan bahwa pemberian hadiah tersebut memiliki makna khusus karena berlangsung pada Bulan Juni yang dikenal sebagai Bulan Bung Karno. Ia menilai semangat kegiatan Wahegar sejalan dengan ajaran Trisakti Bung Karno, terutama dalam aspek kemandirian ekonomi dan pelestarian kebudayaan.

“Pameran UMKM yang ditampilkan menunjukkan semangat kemandirian ekonomi masyarakat, sedangkan lomba fashion show kebaya menjadi wujud nyata upaya memperkuat identitas dan kepribadian bangsa melalui kebudayaan,” ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Yudha menyampaikan penghargaan kepada seluruh pengurus dan anggota Wahegar yang terus berkontribusi bagi masyarakat Garut.

“Hatur nuhun Wahegar atas dedikasi dan kontribusinya. Semoga semakin banyak perempuan Garut yang tumbuh menjadi perempuan tangguh, mandiri, berdaya, dan tetap menjaga akar budaya bangsa,” pungkasnya.(feri)