Garut_Sinar Priangan News
Pemerintah Desa Sukalilah secara resmi menyambut kedatangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam kegiatan penerimaan yang berlangsung khidmat di wilayah desa setempat, Senin (5/1/2026).
Dalam sambutannya, Kepala Desa Sukalilah menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan momentum penting untuk melihat secara langsung realitas kehidupan desa yang kerap luput dari perhatian publik.
“Atas nama Pemerintah Desa Sukalilah dan seluruh masyarakat, kami mengucapkan selamat datang. Desa kami mungkin jarang muncul di media sosial, jarang mendapat pujian, bahkan sering dianggap tertinggal. Namun dari desa inilah kehidupan negeri ini ditopang,” ujarnya.
Ia menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap desa yang kerap dilabeli miskin, tertinggal, dan tidak maju, meskipun kenyataannya desa merupakan sumber utama pangan dan sumber daya bagi masyarakat perkotaan.
“Beras, sayuran, kopi, teh, tembakau, ikan, hingga daging semuanya lahir dari tanah dan keringat masyarakat desa. Ironisnya, desa yang memberi makan negeri ini justru sering terpinggirkan dalam kebijakan dan pembangunan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kepala Desa menekankan bahwa KKN merupakan perwujudan nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, KKN menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk menguji ilmu dan idealisme di tengah kenyataan sosial yang sesungguhnya.
“Di desa, ilmu tidak hanya dipresentasikan, tetapi diuji. Idealisme diuji—apakah berhenti di ruang kuliah, atau benar-benar turun dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Dalam pesannya kepada para mahasiswa, ia menegaskan bahwa desa tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan keadilan, perhatian, dan keberpihakan. Ia berharap mahasiswa mampu bekerja dengan ketulusan, menghormati masyarakat, serta mendengarkan aspirasi warga dengan hati.
“Kami tidak menuntut adik-adik menyelesaikan seluruh persoalan desa. Cukup pandang desa dengan hormat, dengarkan masyarakat, dan bekerjalah dengan ketulusan. Dari desa inilah nilai gotong royong, keteguhan hidup, dan kejujuran masih terjaga,” ujarnya.
Ia juga berharap pengalaman KKN dapat membentuk perspektif jangka panjang mahasiswa agar kelak, ketika menjadi pemimpin, akademisi, atau pengambil kebijakan, tidak lagi memandang desa sebagai beban, melainkan sebagai akar kehidupan bangsa yang harus dijaga dan diperkuat.
“KKN mungkin berlangsung singkat, tetapi dampaknya bisa panjang—baik bagi desa maupun bagi cara mahasiswa memandang Indonesia,” pungkasnya.
Kegiatan penerimaan mahasiswa KKN ini menandai dimulainya rangkaian pengabdian mahasiswa di Desa Sukalilah, yang diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi proses pembelajaran sosial bagi para peserta KKN.
Pewarta: Ujang Bahar




