Laba BNI Semester I 2026 Tembus Rp10,8 Triliun, PPOP Cetak Rekor Tertinggi

Berita, Ekonomi26 Dilihat

SINAR PRIANGAN NEWS

Jakarta, 7 Agustus 2026 – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp10,8 triliun sepanjang semester I tahun 2026. Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan inti yang solid, ekspansi kredit yang sehat dan terdiversifikasi, serta peningkatan transaksi digital nasabah.

 

Pencapaian tersebut turut menopang laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) BNI yang melonjak ke angka Rp18,5 triliun. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk periode semester pertama.

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa penguatan profitabilitas kali ini menunjukkan kontribusi bisnis inti BNI yang semakin berimbang. Ia menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan tidak hanya bergantung pada ekspansi kredit, tetapi juga ditopang oleh pertumbuhan transaksi, solusi cash management, layanan digital, dan aktivitas berbasis komisi lainnya.

“Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga ketahanan profitabilitas BNI dalam berbagai kondisi siklus ekonomi,” ujar Paolo dalam keterangan resminya, Minggu (9/8).

Dari sisi intermediasi, hingga akhir Juni 2026, BNI mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 24,4% secara tahunan menjadi Rp968,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi, mencakup segmen korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer.

Sektor digital juga menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama. Jumlah pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi yang melonjak 110% secara tahunan. Sementara itu, di segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu dengan total volume transaksi Rp6.039 triliun, tumbuh 17% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi pendanaan, struktur dana pihak ketiga BNI juga menunjukkan fundamental yang kuat. Rasio CASA (Current Account Saving Account) dipertahankan pada level 65,4% seiring pertumbuhan CASA yang mencapai 11,2% secara tahunan. Hal ini mendukung perbaikan biaya dana (cost of fund) dana pihak ketiga menjadi 2,56%, membaik dari posisi 2,78% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kualitas aset pun tetap terjaga dengan rasio kredit berisiko atau loan at risk (LAR) yang membaik dari 11,0% menjadi 8,1%, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 1,9%. BNI juga disebut masih mempertahankan kebijakan pencadangan yang konservatif sebagai bagian dari disiplin manajemen risiko.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI berkomitmen untuk memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas, serta melanjutkan transformasi digital dan implementasi program BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment). Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas jaringan dan mengoptimalkan potensi ekonomi di setiap daerah.

Langkah tersebut sejalan dengan fokus Danantara Indonesia dalam mendorong penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai jangka panjang melalui pengelolaan BUMN. Dengan berbagai sentimen positif tersebut, BNI optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan serta meningkatkan kontribusinya bagi nasabah dan perekonomian nasional.

 

 

 

 

**Redd**