Dede Yusuf Berkunjung ke Kabupaten Garut, Ia Kagum dengan Literasi di Kota Intan

Pendidikan203 Dilihat

GARUT, Sinarpriangan.com – Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman, bersama Bunda Literasi Kabupaten Garut, Diah Kurniasari, menyambut kunjungan kerja Bidang Literasi Komisi X DPR RI di Ruang Pamengkang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Jum’at (22/9/2023),

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, mengungkapkan kekagumannya atas perkembangan literasi di Kabupaten Garut. Ia menilai inisiatif desa untuk mendorong perpustakaan lokal merupakan hal luar biasa dan patut didukung baik secara fisik maupun nonfisik.

“Pustakawan semuanya hadir disini, itu tentunya merupakan satu harapan, bahkan ada desa yang mendorong perpustakaan desanya luar biasa sekali, jadi menurut kami memang yang seperti ini memang harus didukung dan harus disupport tentunya melalui program kegiatan baik fisik dan nonfisik,” ucapnya.

Meskipun Kabupaten Garut memiliki 80% wilayah hutan, kehidupan literasi terus berkembang. Dede Yusuf menekankan pentingnya mendukung upaya menjadikan Garut sebagai kota atau kabupaten literasi.
Mengenai teknologi, Dede menegaskan bahwa membaca dan menulis dapat dilakukan dalam berbagai format. Ia memandang pentingnya mempertahankan keinginan dan kemampuan untuk membaca dan menulis di era digital saat ini.

“Ini bisa menjadi contoh teladan sebagai yang diusulkan pengen menjadi kota literasi atau kabupaten literasi saya pikir itu perlu kita support,” lanjutnya.

Menurutnya, bahwa manusia tidak akan bisa menolak pergeseran teknologi, termasuk saat ini, di mana semua orang bisa menulis secara digital.

“Yang kita tidak ingin hilang adalah keinginan atau kemampuan menulis dan membaca, menulis dan membaca itu adalah sesuatu yang merupakan keniscayaan, apalagi ada yang sebagai orang islam selalu yang disebutkan yang pertama kali adalah iqra/membaca,” ujarnya.

Dede menyoroti bahwa membaca adalah inti dari pengetahuan, dengan buku hanya sebagai bagian dari proses peradaban. Perlindungan terhadap budaya membaca dan menulis harus tetap diutamakan, terlepas dari formatnya, baik itu buku kertas maupun digital.

“Jadi menurut kami, yang harus kita lindungi adalah budayanya untuk membaca dan menulis, bukan berbicara hanya dari sisi kertas, karena buku sekarang ada buku digital, ada buku kertas, ada buku bentuk-bentuk yang lainnya yang entah kedepannya seperti apa, itu yang harus kita pikirkan,” jelasnya.

Pihaknya telah melakukan banyak Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP). Namun, sebelum mengambil keputusan final, mereka akan terus mendengarkan masukan dari daerah untuk merumuskan kebijakan terkait literasi.

“Sesuai dengan apa yang diharapkan UNESCO, sesuai dengan apa yang diharapkan dunia, bahwa literasi ini menjadi penting,” ujarnya.

Bunda Literasi Kabupaten Garut, Diah Kurniasari, menyoroti keluhan masyarakat terkait literasi di Kabupaten Garut. Mereka berencana untuk membangun tambahan ruangan perpustakaan dengan bantuan pusat pada tahun 2024. Diah juga mencatat bahwa banyak SD dan SMP di Kabupaten Garut yang masih belum memiliki perpustakaan.

“Bagaimana kita untuk memajukan literasi dan kita juga ingin menambah tempat perpustakaan yang baru, yang Insya Allah akan diberi bantuan dari pusat,” katanya.

Sebagai Bunda Literasi, Diah berharap generasi muda di Kabupaten Garut dapat mencintai literasi dengan meningkatkan minat untuk membaca dan menulis. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan teknologi digital dalam meningkatkan minat baca pada anak-anak milenial.

“Tapi sebenarnya digital juga di buku digital itu banyak. Tapi anak anak sekarang lebih senang dengan tontonan. Nah inilah bagaimana kita mengerem, tapi kita bisa anak anak itu membaca dari digital lah nanti ke depannya seperti itu,” tandasnya.

baca juga: Harga Beras Melambung, Pemkab Garut Buka Operasi Pasar Murah