Ustadz Firanda Jelaskan Waktu Paling Afdol Baca Surah Al Kahfi di Hari Jumat, Apakah Harus Mengqodho Jika Ketinggalan?

Jaga Konsistensi dalam Beribadah

Artikel412 Dilihat

Sinarpriangan.com – Ustadz Firanda Andirja mendapatkan pertanyaan tentang apakah harus mengqodho (mengganti) membaca surah Al Kahfi di malam Jumat ke malam Sabtu, jika berhalangan.

Dalam siaran Youtube yang tayang di channel Ngaji Yuk satu tahun lalu, ustadz Firanda pertama-tama menjelaskan, manakah yang lebih afdol membaca surah Al Kahfi di malam Jumat atau di Hari Jumat.

Ustadz Firanda menjelaskan, sebagian ulama mengatakan bahwa surah Al Kahfi tidak dibaca di malam Jumat, karena ulama tersebut berpendapat hadits yang mengatakan tentang membaca surah Al Kahfi di malam jumat itu lemah (dhoif).

Namun demikian, sebagian ulama, seperti Imam Syafi’i dan beberapa ulama besar lain mengatakan, boleh membaca surah Al Kahfi di malam Jumat.

” Karena dalam Islam, hari dimulai dari malam,” ujar ustadz Firanda.

Namun demikian yang paling Afdol menurutnya, membaca surah Al Kahfi adalah antara adzan subuh sampai dengan adzan magrib di hari Jumat.

” Itulah waktu yang paling afdol,” ujarnya.

baca juga: Kopi Garut, Banyak Diburu Karena Rasanya yang Khas

” Karena waktu sebelum subuh ini ada khilaf diantara para ulama,” tambahnya.

Namun demikian, ustadz Firanda menyebut bahwa tidak masalah membaca surah Al Kahfi di malam Jumat.

Adapun ketika menjawab inti dari pertanyaan, ” Apakah boleh mengqodho membaca surah Al Kahfi di malam Jumat ke malam Sabtu, jika berhalangan”.

baca juga: Kafe di Garut Tongkrongan Anak Muda

Ustadz Firanda mengatakan bahwa hal itu tidak menjadi masalah. Boleh saja dilakukan, walaupun bukan dimaksud membiasakan membaca surah Al Kahfi di malam Sabtu.

Kemudian ustadz Firanda juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi dalam beribadah. Karena suatu ibadah yang konsisten dilakukan, maka akan tetap dicatat pahalanya, ketika seseorang tersebut berhalangan melakukannya.

Kemudian Ia pun membacakan hadits,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

yang artinya” Jika seorang hamba sakit atau dia bersafar, maka dicatat bagi dia amalan yang biasa dia lakukan”.

Artinya, jika seseorang berhalangan membaca surah Al Kahfi di malam Jumat atau di hari Jumat, maka dia akan tetap mendapatkan pahala ibadah tersebut. Dengan catatan bahwa dia memang konsisten melakukan ibadah tersebut, jika tidak berhalangan.

baca juga: Masalah Petani Cikajang dengan PTPN Disarankan Selesai di GTRA