Paradigma Isra Mi’raj

Artikel152 Dilihat

Menurut yang Kang Asmud baca dari buku Sirah Nabawiyah karangan Ar-rahiq Al-makhtum yang menceritakan sejarah lengkap kehidupan Rosulullah SAW.

Dari peristiwa Isra Mi’raj ini, sebenarnya sudah banyak yang menyampaikan perihal hikmah dari peristiwa besar di kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Karena tidak diterima oleh logika manusia, akhir akhir ini banyak peneliti yang membuktikan kebenarannya. Kita sebagai muslim tentunya ada yang yakin dan percaya sepenuhnya, dan pasti ada juga yang belum yakin sepenuhnya.

Empat hal besar yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra Miraj tersebut yaitu diantaranya;

Adalah pertama, Ujian ketauhidan. Bagaimana peristiwa itu sama sekali tidak bisa diterima dengan akal sehat manusia bagi yang tidak meyakini kebenaran Sang Nabi.

Orang-orang Quraisy yang tahu bahwa Muahamad bin Abdillah diberi gelar al-amin pun masih saja belum percaya dan mendustakan. Mereka sama sekali tidak menerima apa apa kebenaran yang disampaikan oleh Rosulullah.

Perjalanan Isra Mi’raj yang ditempuh Rosul hanya berkisar pada satu malam saja, berangkat dari masjidil haram bada magrib dan kembali lagi sebelum sholat shubuh.

Pagi itu, Rosulullah terlihat seperti kebingungan. Jikalau disampaikan peristiwa itu kepada umatnya, takut seperti mengada ngada. Kalau tidak disampaikan, jelas jelas ini adalah wahyu Tuhan yang harus disampaikan. Begitulah konsekuensi dakwah.

Abu Sufyan pun, menanyakan perihal kebingungan Rosulullah, kemudian beliau menceritakan peristiwa itu kepada Abu Sufyan.

Abu sufyan yang terkenal sangat benci Rosul, berita yang ia terima dari Muhammad itu, ia manfaatkan untuk menjatuhkan dan menjadikan bahan tertawaan masyarakat Quraisy. Ia pun segera kembali dan mengumpulkan kaumnya karena sudah tidak sabar melihat Nabi terpoyok.

Kali pertama Abu Sufyan bertemu dengan Abu Bakar, lalu ia menceritakan semuanya tentang berita dari peristiwa Rosulullah itu. Abu bakar hanya menjawab, “Jika itu datangnya dari mulut Rosulullah, maka aku percaya”

Riwayat mengatakan kenapa Abu Bakar dijuluki “ash-shidiq” karena dia adalah orang pertama yang langsung membenarkan peristiwa Isra mi’raj saat orang lain mendustakannya.

Tidak cukup sampai disana saja, Abu sufyan pun terus mencari cara bagaimana supaya Rosulullah dicemooh kaumnya. Sampai pada pertemuan dengan masyarakat Quraisy, ada sebagian yang percaya dan sebagian lagi ragu-ragu.

Setelah diceritakan sepenuhnya kepada masyarakat Quraisy, ada salah seorang yang menguji kebenaran berita Rosulullah, “Yaa Muhammad, jika berita Anda benar, coba sebutkan ada berapa tiang penyangga masjidl aqso?”

Secara logika sadar saja, ketika sampai di baitul maqdis apakah Rosulullah hanya sekedar menghitung tiang masjid? Jelas bukan tujuan. Tapi dengan bantuan Allah swt melalui malaikat Jibril, kemudian digambarkanlah dengan jelas tampak luar dan interior masjidil aqso. Rosulpun menghitungnya dan menjawab dengan benar. Namun masil belum bisa membuat mereka percaya.

Kemudian Rosul melihat kafilah penduduk mekah yang melakukan perjalanan pulang ke mekah. Beliau menunjukkan unta mereka yang terpisah dari kawanannya. Beliau minum air mereka dari bejana yang tertutup selagi mereka tidur, lalu membiarkan bejana itu tetap tertutup. Inilah bukti kebenaran perjalanan beliau setelah esoknya diceritakan.

Kedua, penyerahan estapeta tampuk kekuasaan/kepeminpinan dari nabi-nabi sebelumnya kepada Rosulullah saw. Ditandai dengan simbolis pada saat Rosul menjadi imam sholat di masjidil aqso. Dibelakang adalah para nabi sebelumnya.

Ketiga, hikmah terbesar isra mi’raj adalah diperlihatkan kerajaan bumi dan langit. Rosulullah ditemani oleh Jibril naik ke langit kesatu dan bertemu dengan Nabi Adam. Beliau mengucapkan salam kepadanya dan mengakui nubuwahnya.

Naik lagi ke langit kedua, Rosul bertemu dengan Yahya bin Zakariya dan Isa bin Maryam. Mereka mengucapkan salam dan mengakui kenabiannya.

Kemudian beranjak naik ke langit ketiga, disana ada Nabi Yusuf. Beliau mengucap salam sama halnya dengan nabi yang lainnya. Di langit keempat ada Nabi Idris, di langit kelima ada Nabi Harun, dan di langit kelima ada Nabi Musa bin Imran.

Ketika Rosulullah hendak meninggalkan langit keenam, Musa kemudian menangis. Kemudian Rosul bertanya, “kenapa engkau menangis?” Musa menjawab, “Aku menangis karena ada seorang nabi sepeninggalanku dan umatnya banyak yang masuk syurga ketimbang kaumku.”

Kemudian Jibril membawa Rosulullah naik lagi ke langit ke tujuh. Disana ada Nabi Ibrahim. Beliau menyambut kedatangan Rosulullah dengan salam dan mengakui nubuwahnya. Setelah dari sana naik lagi ke Sidrotul muntaha dan setelahnya baitul ma’mur.

Kemudian naik lagi untuk bertemu dengan Allah yang Mahabesar dan Mahakuasa dengan mata telanjang. Nabi Muhammad bercengkrama dengan Allah swt. Selain itu, diperlihatkan juga syurga dan neraka, bagaimana balasan-balasan ketika manusia hidup di dunia.

Dari hasil pertemuan itu, Rosul mendapatkan hikmah yang keempat adalah diwajibkannya sholat. Yang pada mulanya Allah memberikan kewajiban lima puluh waktu sholat. Kemudian Rosul turun dan seketika Nabi Musa mencegahnya. Untuk tidak menerima kebijakan lima puluh waktu sholat itu.

Pada zaman Nabi Musa, sholat hanya satu waktu, tapi banyak kaumnya yang tidak kuat dan banyak yang meninggalkannya. Lalu, kaum Rosulullah dikasih limapuluh waktu sholat. Membuat Nabi Musa tidak menyetujuinya.

Mendengar teguran Nabi Musa, Rosulullah langsung melakukan negosiasi lagi dengan Allah untuk menurunkan kembali jumlah waktu sholatnya. Hingga diturunkanlah sepuluh waktu. Tapi belum disetujui oleh Musa. Rosulpun harus mondar mandir sampai keputusan akhir ditetapkanlah 5 waktu sholat.

Mudah-mudahan dari keempat hikmah isra dan mi’raj tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita semuanya dalam menambah keyakinan kita terhadap Allah swt.