Lapas Garut Panen 17,7 Ton Ayam Pedaging, Warga Binaan Diberdayakan

Artikel25 Dilihat

GARUT — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut mencatat hasil panen sebanyak 17.742 kilogram atau sekitar 17,7 ton ayam pedaging melalui program pembinaan kemandirian di bidang peternakan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif.

Panen yang dilaksanakan secara bertahap pada 8–14 Oktober 2026 itu menghasilkan 8.990 ekor ayam dari populasi awal sebanyak 9.400 ekor. Dengan bobot rata-rata 1,97 kilogram per ekor, hasil tersebut menunjukkan produktivitas kegiatan peternakan yang dikelola di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) dengan melibatkan tujuh warga binaan.

Dari keseluruhan populasi, sebanyak 50 ekor ayam disalurkan kepada masyarakat sekitar Lapas sebagai bentuk kepedulian sosial. Sementara itu, 360 ekor lainnya tercatat mengalami kematian selama masa pemeliharaan.

Program peternakan tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan PT Barokah Restu Utama. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan kegiatan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan warga binaan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat sosial.

Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen Pemasyarakatan dalam mendukung program prioritas Kemenimipas, khususnya penguatan ketahanan pangan melalui pemberdayaan warga binaan.

“Panen 17,7 ton ayam ini bukan sekadar capaian produksi, melainkan bukti bahwa warga binaan mampu menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan. Kami ingin Lapas menjadi ruang pembinaan yang produktif, tempat warga binaan memperoleh keterampilan, membangun kemandirian, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Rusdedy.

Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja), Asep Supriatna, menjelaskan bahwa keterlibatan tujuh warga binaan dalam kegiatan peternakan menjadi sarana pembelajaran secara langsung. Mereka mendapatkan pengalaman dalam berbagai tahapan, mulai dari pemeliharaan ayam, pengelolaan pakan, pemantauan pertumbuhan, hingga proses panen.

“Kami tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga memastikan setiap proses menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan. Harapannya, pengalaman ini dapat membuka peluang usaha maupun pekerjaan setelah mereka kembali ke masyarakat,” ungkap Asep.

Selain mendukung ketersediaan pangan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi melalui kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Warga binaan yang terlibat turut berpeluang memperoleh premi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Capaian panen ini memperlihatkan bahwa program pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan dapat dikembangkan melalui kegiatan produktif yang memberikan pengalaman kerja nyata. Ke depan, penguatan sektor peternakan di Lapas Garut diharapkan dapat terus mendukung ketahanan pangan sekaligus mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal keterampilan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Dari balik tembok pemasyarakatan, kegiatan peternakan menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan kemandirian, membangun keterampilan, dan membuka peluang masa depan yang lebih baik bagi warga binaan.(Ima)