SINAR PRIANGAN — Di tengah perjuangan melawan tumor usus, Dani Hamdani (45), seorang Ketua RT di Desa Mekarsari, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, harus menghadapi ujian yang tidak ringan.
Setelah menjalani operasi, perjuangan Dani untuk sembuh belum berakhir. Ia masih harus menjalani rangkaian pengobatan dan kemoterapi di Bandung. Dalam masa pemulihan, Dani juga harus menggunakan kantong kolostomi untuk buang air besar.
Untuk mendapatkan pengobatan lanjutan, Dani beberapa kali harus dirujuk ke Rumah Sakit Santosa Bandung. Selain menjalani kemoterapi, ia juga harus menjalani kontrol terhadap kondisi bekas operasinya.
Biaya pengobatan Dani memang telah ditanggung melalui BPJS Kesehatan. Namun, ada persoalan lain yang kini menjadi beban berat, yakni biaya perjalanan menuju Bandung.
Dalam kondisi belum dapat kembali bekerja seperti biasa, Dani mengaku sudah tidak memiliki cukup uang untuk membiayai perjalanan berobat. Untuk sekali perjalanan ke rumah sakit di Bandung, ia membutuhkan sedikitnya sekitar Rp500 ribu.
” Saya harus menjalani beberapa kali kemoterapi di Bandung karena di RSUd Garut belum ada fasilitas kemoterapi. Untuk biaya memang sudah pakai BPJS tapi untuk ongkos ke sana saya gak punya uang. Paling tidak sekali berangkat itu butuh uang Rp500 ribu,” ujar Dani.
Kondisi tersebut membuat perjuangan Dani semakin berat. Pengobatan harus tetap dijalani, sementara kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk kembali bekerja secara normal.
Di tengah keterbatasan itu, Dani berusaha mencari bantuan agar proses pengobatannya dapat terus berjalan. Ia telah mengajukan proposal bantuan kepada BAZNAS Garut dan juga berencana mengajukan permohonan bantuan kepada Wakil Bupati Garut.
” Saya sudah mengajukan proposal ke BAZNAS Garut dan saya juga akan mengajukan proposal ke Bu Putri Wakil Bupati Garut. Saya berharap bisa mendapatkan bantuan untuk biaya ke rumah sakit,” ujar Dani.
Dani masih memiliki tanggungan dua anak yang masih kecil. Karena belum pulih, ia khawatir tidak dapat kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
” Mohon kepada Pemerintah Kabupaten Garut untuk bisa membantu kami. Saya punya tanggungan dua anak yang masih kecil. Jika saya belum sehat saya tidak bisa bekerja,” ujar Dani.
Perjuangan Dani mendapat perhatian dari Kepala Desa Mekarsari, H. Dadang. Pemerintah desa telah berupaya membantu Dani sejak menjalani operasi.
Bantuan diberikan sesuai kemampuan pemerintah desa, termasuk membantu biaya ketika Dani menjalani operasi serta menyediakan mobil siaga desa untuk mendukung kebutuhan pengobatannya.
” Sejauh ini kami dari desa sudah berupaya membantu pak Dani. Sewaktu operasi kami bantu alakadarnya untuk biaya kemudian kami juga sudah sediakan mobil siaga desa,” ujar H. Dadang.
Pada Selasa (22/9), H. Dadang kembali mengunjungi Dani untuk melihat secara langsung kondisi warganya yang tengah menjalani masa pemulihan.
Pemerintah desa berharap kondisi yang dialami Dani mendapat perhatian dari berbagai pihak, sehingga beban yang harus ditanggungnya selama menjalani pengobatan dapat sedikit berkurang.
” Mudah-mudahan ada bantuan dari berbagai pihak kepada warga kami ini supaya beliau bisa kembali sehat,” ujar H. Dadang.
Harapan itu kemudian mendapat titik terang. Berdasarkan informasi dari perangkat Desa Mekarsari, Jaka, permohonan bantuan yang diajukan Dani kepada BAZNAS Garut telah dikabulkan.
Bantuan tersebut sudah dapat dicairkan pada Selasa (22/9). Bantuan itu diharapkan dapat membantu Dani memenuhi kebutuhan selama menjalani proses pengobatan dan perjalanan menuju rumah sakit.
Di balik perjuangan menjalani operasi, menggunakan kantong kolostomi dan menghadapi rangkaian kemoterapi di Bandung, Dani masih menyimpan satu harapan besar: sembuh dan kembali dapat bekerja.
Sebab, ada dua anak yang masih kecil di rumah yang menanti dirinya kembali sehat.
Bagi Dani, kesembuhan bukan sekadar terbebas dari penyakit. Kesembuhan berarti kesempatan untuk kembali mencari nafkah, kembali menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, dan kembali berada di tengah dua buah hatinya.
(Feri)




