SINAR PRIANGAN – Dosen STIE Yasa Anggana Garut, pengampu Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar, Susilawati, S.Pd., M.Pd., menggelar kegiatan Kreasi Budaya bertajuk “Merajut Tradisi dalam Gerak dan Nada” pada Sabtu (18/7/2026) di Reverdose Garut. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi tugas mata kuliah yang diikuti mahasiswa semester 1 sebagai sarana penguatan karakter, kreativitas, serta pelestarian budaya lokal.
Acara yang dikemas melalui berbagai pertunjukan seni dan budaya ini menjadi ruang ekspresi bagi mahasiswa untuk menampilkan beragam potensi yang dimiliki, mulai dari tari tradisional, jaipongan, drama musikal, hingga kaulinan atau permainan tradisional.
Susilawati menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga praktik dan pendidikan karakter.
” Alhamdulillah hari ini dalam rangka mata kuliah ilmu budaya dasar, kebetulan saya dosen pengampunya dan berhubungan dengan MKDU ya, mata kuliah umum semester 1 ya semester 2 sekarang. Jadi ilmu budaya dasar itu dimana saya selaku dosen selain memberikan teori dan teori tetapi harus memberikan pendidikan karakternya, bagaimana menjadi wadah para mahasiswa untuk mengambangkan minat dan bakatnya,” ujarnya.

Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda yang perlu diberikan ruang untuk berkembang di luar aspek akademik.
” Karena selama ini kita tidak tahu kan kemampuan mahasiswa sejauh mana yang tahunya adalah mengenai mata kuliah. Di samping itu, pasti mahasiswa juga punya kelebihan masing-masing, yaitu dalam bidang kreatifitasnya yang harus dikembangkan oleh seorang dosen,” sambungnya.
Sebagai seorang pendidik, Susilawati menilai bahwa dosen memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri mahasiswa. Oleh karena itu, seluruh pelaksanaan kegiatan dipercayakan kepada mahasiswa sebagai bentuk pembelajaran kepemimpinan dan kerja sama.
” Saya selaku dosen harus punya tanggung jawab memberikan motivasi, support bagaimana mahasiswa itu bisa memberikan yang terbaik dan percaya diri, karena ini semua EO-nya oleh mahasiswa. Semua MC-nya dari ngaji segala macam semua yang mengemas adalah mahasiswa itu sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memahami pentingnya pelestarian budaya melalui karya nyata yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.
“Jadi nanti ini jadi wadah buat mereka bagaimana saya harus mampu mensupport bagaimana melestarikan budaya itu sendiri lewat karya nyata. Dengan adanya kreasi budaya ini. Dimana perpaduan antara gerak dan nada. Dimana mahasiswa bisa berekspresi. Sesuai dengan kemampuannya. Ada yang jaipongan. Ada yang tari. Ada yang drama musikal. Ada yang lain-lain ya. Semua ada kayak bajidor gitu ya. Tradisi-tradisi keulinan. Anak-anak juga zaman dulu ada di sini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman mengenai budaya dan kontribusi mahasiswa terhadap masyarakat menjadi modal penting, terutama ketika nantinya mereka terjun langsung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
” Dan alhamdulillah mahasiswa paham. Apa itu budaya. Dan bagaimana porsinya selaku mahasiswa untuk memberikan. nilai manfaat karena nantinya akan KKN dimana akan terjun ke lapangan dan ini modal utamanya,” sambungnya.
Susilawati juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, sejumlah peserta berasal dari kelas karyawan yang telah memiliki pekerjaan tetap, namun tetap mampu menunjukkan dedikasi dan kreativitas dalam kegiatan kampus.
” Saya salut selaku dosen, kelas karyawan itu semua kerja, ada yang jadi officer bank, ada yang kerja di perusahaan-perusahaan ternama, tapi bisa berkarya di sini gitu, ada kades, ada sekdes, jadi suatu yang hebat ya, bisa berkarya,” katanya.
Selain menampilkan pertunjukan seni, kegiatan Kreasi Budaya juga menghadirkan permainan tradisional atau kaulinan sebagai upaya memperkenalkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong kepada generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.
” Jadi biar anak-anak sekarang itu jangan terus main game apa gitu dengan adanya kaulinan itu lebih terbentuk jiwa kebersamaan, gotong royong, jadi kalau dulu itu kekeluargaannya terasa sekarang dengan tetangga aja gak pada kenal ya, kalau dulu Ayo kita main zaman ibu mengalami,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan, Fazri Maulana, mengaku kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi mahasiswa dalam menyalurkan kreativitas dan mengembangkan kemampuan berekspresi.
” Dengan adanya kegiatan ini Bisa membantu saya dan rekan saya untuk lebih bisa mengekspresikan diri. Jadi lebih menonjol gitu ya. Jadi gak terlalu fokus ke handphone, ke gadget. Terus gak pusing mikirin tugas lah,” ujarnya.
Menurut Fazri, meskipun kegiatan tersebut merupakan bagian dari tugas perkuliahan yang cukup menantang, suasana yang dibangun melalui berbagai penampilan seni membuat proses pelaksanaannya menjadi lebih berkesan dan menyenangkan.
” Yang penting kita dengan adanya tugas ini kita ada hiburannya juga. Walaupun ini tugas agak berat gitu. Tapi agak berkesan juga ini karena di dalamnya terdapat hiburan. nyanyi-nyanyian seperti segalanya ya ada gitu ya,” sambungnya.
Di akhir kegiatan, Fazri turut menyampaikan apresiasi kepada dosen pengampu yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri melalui kegiatan tersebut.
” Pesannya sukses terus buat ibunya juga. Jangan pantang menyerah,” ujarnya.
Melalui kegiatan “Merajut Tradisi dalam Gerak dan Nada”, STIE Yasa Anggana Garut menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan penguatan karakter, kreativitas, dan pelestarian budaya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi media pembelajaran berbasis praktik, tetapi juga sarana membangun kepedulian mahasiswa terhadap nilai-nilai budaya yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.(Kang ipey)




