Dekranasda dan Disperindag Garut Gagas Pelatihan Kerajinan Eceng Gondok untuk Tingkatkan Ekonomi Lokal

Berita, Ekonomi1132 Dilihat

GARUT, Sinarpriangan.com– Dinas Perindustrian Perdagangan Energia dan Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Kabupaten Garut bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Garut mengadakan Pelatihan Kerajinan Produk Berbahan Dasar Eceng Gondok selama 3 hari di Fave Hotel Garut.

Acara yang resmi dibuka oleh Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Garut, Diah Kurniasari Rudy Gunawan, Selasa (14/11/2023), diikuti oleh 50 peserta, termasuk warga sekitar Situ Bagendit dan perajin setempat.

Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk mengurangi populasi eceng gondok di rawa, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan mengembangkan kerajinan khas Kabupaten Garut.

Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Garut, Diah Kurniasari Rudy Gunawan, berharap para peserta dapat menghasilkan karya unggulan melalui eceng gondok, sumber daya yang melimpah di Situ Bagendit. Meski diakui terlambat dalam memanfaatkannya, Diah menekankan potensi eceng gondok sebagai produk kreatif.

“Harus (jadi produk unggulan), kan kita punya batik, punya kulit, ada akar wangi, ada sutra bulu. Nah sekarang kita coba lah, (walaupun) sebenarnya kita terlambat karena sebenarnya kita eceng gondok ini banyak, tapi kita baru hari ini bisa memberi pelajaran memanfaatkan eceng gondok,” ujar Diah seusai membuka acara pelatihan.

Tak hanya itu, Diah juga berharap para peserta yang hari ini mengikuti kegiatan pelatihan, bisa membagikan kembali ilmu yang di dapat, kepada masyarakat sekitar. Terlebih, ia menilai jika produksi kerajinan eceng gondok ini relatif tidak memerlukan modal yang besar, hanya diperlukan kemauan serta kreativitas untuk menciptakan karya dari bahan yang biasanya menjadi masalah bagi Situ Bagendit.

“Mereka harus jadi role model ya, jadi mereka memberi pelatihan lagi untuk sekitarnya,” ucapnya.

Kepala Disperindag ESDM Kabupaten Garut, Ridwan Effendi, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan memberikan nilai tambah pada potensi yang selama ini dianggap bermasalah. Ridwan berharap eceng gondok yang dulunya menjadi masalah dapat menjadi berkah dan meningkatkan ekonomi keluarga di sekitar Situ Bagendit.

“Dan juga tentu saja bisa menjadi inspirasi bagi yang lain gitu, dari tentu saja tidak hanya eceng godok nanti, banyak barang-barang lain atau mungkin komoditas lain yang bisa dikembangkan,” tutur Ridwan.

Tindaklanjut dari pelatihan ini akan fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pemasaran produk berbahan dasar eceng gondok, yang saat ini sedang dikembangkan bersama Dekranasda Kabupaten Garut.

Ridwan Effendi menegaskan potensi eceng gondok tidak hanya sebagai bahan kerajinan kreatif, tetapi juga sebagai pupuk organik dan bahan pendukung bangunan.

Narasumber Slamet, perajin kerajinan eceng gondok asal Kabupaten Semarang, diundang untuk berbagi ilmu. Slamet menekankan bahwa semua jenis eceng gondok di Indonesia dapat digunakan untuk kerajinan, dengan kualitas yang dipengaruhi oleh lingkungan, air, dan luas tempat tumbuh.

Slamet memaparkan,dalam pelatihan ini, peserta diajarkan bagaimana proses pembuatan berbagai produk dari eceng gondok, seperti souvenir, sandal, kotak tisu, tempat sampah, hingga pot.

Slamet menjelaskan jika semua eceng gondok yang ada di Indonesia semua bisa digunakan untuk kerajinan, hanya saja yang membedakan adalah kualitasnya. Sedangkan faktor yang memengaruhi kualitas eceng gondok ini, adalah lingkungan, air, dan luas daripada tempat eceng gondok untuk berkembang biak.

“Cuma semua enceng gondok baik pendek (atau) panjang bisa digunakan, cuma kita yang sementara ini di Asia tenggara itu di Rawa Pening itu nomor 2 se Asia Tenggara, nomor satunya di Thailand kualitasnya,” katanya.

Ia juga memaparkan ada aturan tersendiri terkait pendistribusian eceng gondok di tempat ia tinggal, di mana petani eceng gondok setor ke pengepul dan perajin membeli eceng gondok ke pengepul. Adapun, harga terkini dari eceng gondok kering yang menjadi bahan baku kerajinan di wilayahnya, yaitu berkisar di angka Rp7.500 per kilogramnya.

“Setelah itu ada proses dari bleaching anti jamur, terus nanti pengeleman sama finishing, terus terakhir itu packing, jadi sangat – sangat mudah sekali untuk dipelajari,” papar Slamet.

 

Baca Juga :

Pemkab Garut Hibahkan 67 Rumah Susun kepada Eks Penghuni Astana Kalong

 

BAZNAS Garut Beri Bantuan Modal Usaha dan Santunan Untuk Keluarga Balita Stunting

 

Pemerintah Kabupaten Garut kembali Menggelar Apel Gabungan