110 Tahun Zelfbestuur: Apakah Rakyat Sudah Menjadi Tuan di Negerinya Sendiri?

PD SEMMI Garut memandang bahwa Zelfbestuur adalah amanat sejarah yang belum selesai.

 

SINAR PRIANGAN NEWS

Garut, 17 Juni 2026

Seratus sepuluh tahun yang lalu, di tengah gelapnya kolonialisme Hindia Belanda, seorang guru bangsa bernama H.O.S. Tjokroaminoto berdiri dan mengguncang kesadaran rakyat bumiputera dengan sebuah gagasan yang melampaui zamannya: Zelfbestuur : hak suatu bangsa untuk mengatur dirinya sendiri.

Pada tahun 1916, ketika sebagian besar rakyat masih dipaksa menerima kenyataan sebagai bangsa yang diperintah, Tjokroaminoto justru mengajukan pertanyaan yang radikal: mengapa suatu bangsa harus terus hidup di bawah kehendak bangsa lain?

Bagi Tjokroaminoto, Zelfbestuur bukanlah sekadar tuntutan politik. Ia adalah tuntutan martabat. Ia adalah penolakan terhadap segala bentuk penaklukan manusia atas manusia. Ia adalah pernyataan bahwa rakyat harus menjadi pemilik sah atas tanah airnya, atas kekayaannya, atas masa depannya, dan atas kekuasaannya sendiri.

Namun setelah 110 tahun berlalu, pertanyaan yang sama kembali berdiri di hadapan kita dengan bobot yang jauh lebih berat:

*Apakah rakyat Indonesia telah benar-benar menjadi tuan di negerinya sendiri?*

Ataukah kita hanya berhasil mengganti warna bendera dan wajah penguasa, sementara struktur ketidakadilan yang dahulu dilawan tetap hidup dalam bentuk yang berbeda?

KEMERDEKAAN DAN PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB

Bangsa ini memang telah merdeka sejak 1945.

Kita memiliki pemerintahan sendiri, parlemen sendiri, birokrasi sendiri, dan pemimpin yang lahir dari rahim bangsa sendiri.

Namun sejarah mengajarkan bahwa kemerdekaan formal tidak selalu identik dengan kedaulatan yang sejati.

Karena sesungguhnya penjajahan tidak hanya terjadi ketika bangsa asing menguasai suatu wilayah.

Penjajahan juga terjadi ketika rakyat kehilangan kendali atas arah kehidupan bangsanya sendiri.

Penjajahan terjadi ketika kekuasaan semakin jauh dari rakyat yang seharusnya dilayaninya.

Penjajahan terjadi ketika kekayaan nasional yang seharusnya menjadi milik bersama hanya berputar di lingkaran yang sempit.

Dan penjajahan terjadi ketika rakyat hanya menjadi objek pembangunan, sementara keputusan-keputusan besar ditentukan tanpa melibatkan kehendak mereka.

Inilah yang harus menjadi renungan bangsa pada peringatan 110 Tahun Zelfbestuur.

DARI KOLONIALISME TERBUKA MENUJU DOMINASI YANG LEBIH HALUS

Kolonialisme abad ke-20 datang dengan serdadu, senjata, dan administrasi kolonial.

Kolonialisme abad ke-21 hadir dalam wajah yang jauh lebih kompleks.

Ia hadir melalui ketimpangan ekonomi yang semakin tajam.

Ia hadir melalui konsentrasi kekayaan yang semakin mengerucut.

Ia hadir ketika sumber daya alam melimpah tetapi kesejahteraan rakyat tertinggal.

Ia hadir ketika pertumbuhan ekonomi terus dibanggakan, tetapi daya beli masyarakat melemah.

Ia hadir ketika demokrasi hanya menjadi prosedur lima tahunan, sementara rakyat semakin sulit memengaruhi arah kebijakan negara.

Dalam konteks inilah gagasan Zelfbestuur menemukan relevansinya kembali.

Karena Zelfbestuur sesungguhnya bukan hanya soal siapa yang memegang kekuasaan.

Tetapi tentang Untuk siapa kekuasaan itu dijalankan.

 

MEMBACA ULANG TJOKROAMINOTO

Tjokroaminoto memahami bahwa kemerdekaan politik tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan bentuk baru dari penindasan.

Beliau tidak memperjuangkan pergantian penguasa semata.

Beliau memperjuangkan lahirnya tatanan masyarakat yang berkeadilan.

Beliau memperjuangkan rakyat yang berdaulat atas kehidupan ekonominya.

Beliau memperjuangkan bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa kehilangan harga diri dan kemandiriannya.

Oleh karena itu, memperingati Zelfbestuur tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah.

Mengibarkan semangat Tjokroaminoto berarti berani mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.

Berani mengkritisi arah kekuasaan.

Berani mengoreksi ketimpangan.

Dan berani memastikan bahwa cita-cita kemerdekaan tetap berpihak kepada rakyat.

KRISIS TERBESAR BANGSA INI ADALAH KRISIS KEDAULATAN RAKYAT

Hari ini bangsa Indonesia sesungguhnya tidak sedang kekurangan sumber daya.

Kita tidak kekurangan kekayaan alam.

Kita tidak kekurangan generasi muda yang cerdas.

Kita tidak kekurangan potensi.

Yang sering kali kita kekurangan adalah keberanian untuk memastikan bahwa seluruh kekuatan bangsa itu benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Karena ukuran kemajuan bangsa bukanlah tingginya gedung yang dibangun.

Bukan pula besarnya angka investasi yang diumumkan.

Tetapi sejauh mana rakyat merasakan keadilan dari hasil pembangunan tersebut.

Jika kemajuan hanya dinikmati oleh segelintir orang, maka kemajuan itu kehilangan makna sosialnya.

Jika pertumbuhan tidak menghasilkan pemerataan, maka pertumbuhan hanya menjadi statistik.

Jika kekuasaan tidak menghadirkan keadilan, maka kekuasaan kehilangan legitimasi moralnya.

SERUAN UNTUK PD SEMMI GARUT

Sebagai organisasi kader yang lahir dari rahim perjuangan Sarekat Islam, PD SEMMI Garut memandang bahwa Zelfbestuur adalah amanat sejarah yang belum selesai.

Perjuangan hari ini bukan lagi mengusir penjajah dari tanah air.

Tetapi memastikan bahwa rakyat benar-benar memiliki kedaulatan atas bangsa ini.

Kedaulatan atas ekonomi.

Kedaulatan atas politik.

Kedaulatan atas pendidikan.

Kedaulatan atas sumber daya alam.

Dan kedaulatan atas masa depan generasi berikutnya.

Sebagaimana yang dicita-citakan Tjokroaminoto, rakyat tidak boleh hanya menjadi penghuni republik.

Rakyat harus menjadi pemilik republik.

Pada peringatan 110 Tahun Zelfbestuur 1916–2026, kami mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk kembali menghidupkan semangat perjuangan yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto.

Karena sejarah tidak meminta kita untuk sekadar mengenang para pendahulu.

Sejarah meminta kita melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

Dan pekerjaan itu adalah memastikan bahwa Indonesia bukan hanya merdeka secara administratif, tetapi juga berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan adil secara sosial.

Maka pertanyaan besar yang dikumandangkan Tjokroaminoto pada tahun 1916 masih bergema hingga hari ini:

Apakah rakyat sudah menjadi tuan di negerinya sendiri?”

Jika jawabannya belum sepenuhnya “ya“, maka perjuangan Zelfbestuur belum selesai.

110 Tahun Zelfbestuur.
110 Tahun Kesadaran.
110 Tahun Perlawanan terhadap Ketidakadilan.
110 Tahun Menegaskan Bahwa Kedaulatan Bangsa Harus Kembali kepada Rakyat.

Oleh: Rizki Hadiansyah
Ketua Umum PD SEMMI Garut
Peringatan 110 Tahun Zelfbestuur 1916–2026✊🏻🔥

 

 

 

 

 

**Redd**